Pesona Lembah Baliem Wamena, Papua

“Suatu saat saya harus ke Wamena!”. Mungkin kalimat itulah yang sering saya ucapkan sejak dulu. Yup, semenjak dari lahir tinggal di Papua, saya belum pernah menginjakan kaki sekalipun di Wamena untuk menikmati pesona Lembah Baliem yang sudah tersohor itu. Selama ini saya hanya mendengar cerita dari orang tua, kakak maupun teman yang sudah pernah berlibur ataupun dinas disana. Dingin! Satu kata yang sering terucap dari mulut mereka yang sudah pernah ke Wamena. Tapi apa iya?

Ada Festival Budaya di Wamena

Setelah penantian panjang, akhirnya rasa penasaran saya pun terjawab sudah. Awal Agustus kemarin, tepatnya tgl 7-10 Agustus 2018 saya memilih untuk menghabiskan cuti tahunan saya ke Wamena, Papua. Saya memilih tanggal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sekalian ingin menyaksikan festival budaya tahunan yang ada disana, yaitu Festival Budaya Lembah Baliem 2018. Ada beberapa teman yang sempat nyeletuk, “Ngapain sih traveling ke Wamena? Sayang banget cutinya dihabiskan cuma buat ke Wamena yang sama-sama masih di Papua juga”. Dalam hati saya cuma ngomong, “Liat aja nanti, awas kalo sampe baper dan pengen juga ke Wamena! Hehe”.

Saya sempat harap-harap cemas soal keamanan dan transportasi disana. Maklum, sepertinya isu keamanan sudah bukan hal yang baru lagi disana. Keamanan yang seringkali kurang kondusif terkadang menjadi momok tersendiri bagi para pelancong seperti saya yang ingin berkunjung ke Wamena. Tapi ya mau gimana lagi, kata pepatah “the show must go on”. Kalau bukan sekarang, kapan lagi saya bisa ke Wamena? Nunggu sampai nikah dulu? Atau sampai punya anak? Yakali! Hahaha. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga selama saya di Wamena situasi keamanan disana kondusif dan yang terpenting jangan sampai nyasar! Hahaha.

Indahnya Landscape Wamena

Tak butuh waktu lama perjalanan udara dari Jayapura menuju Wamena. Dengan pesawat udara jenis boeing, jarak tempuhnya hanya 30 menit saja. Tepat sebelum landing, kita akan melewati celah pegunungan di kanan dan kiri. Orang disana biasa menyebutnya celah pintu karena menyerupai pintu masuk ke Wamena. Saat akan melewati celah pintu ini kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa cantik yakni berupa pegunungan yang menjulang tinggi diantara lembah-lembah. Ah, dari atas udara saja Wamena sudah mengagumkan!

Setibanya di bandar udara Wamena dan keluar dari pintu pesawat, saya langsung jatuh cinta dengan suhu udara disana. Suhunya sejuk serasa tanpa polusi, padahal saat itu sudah siang hari. Setelah bertanya pada penduduk setempat, ternyata suhu di Wamena memang seperti itu. Pada pagi hingga sore hari suhunya tetap terasa sejuk, namun ketika malam hingga dini hari suhunya bisa lebih dingin dari itu bahkan menusuk tulang. Benar saja, saat malam pertama disana saya sempat menggigil kedinginan hingga harus tidur menggunakan selimut tebal dan kaos kaki. Bahkan saking dinginnya, setiap ingin mandi (pagi maupun sore) saya harus merebus air panas terlebih dahulu. Pantes saja di Wamena kipas angin dan AC tidak laku. Hahaha.

Bandar Udara Wamena

Oh ya, ngomongin soal Festival Budaya Lembah Baliem 2018, tahun ini festival tersebut diadakan mulai tanggal 7 – 9 Agustus 2018 dan diadakan di Distrik Walesi-Kabupaten Jayawijaya yang jaraknya tidak jauh dari pusat kota.  Saya sempat menyaksikan festival tersebut selama 2 hari, yakni pada hari pertama dan kedua (7 – 8 Agustus 2018). Sekedar info, Festival Budaya Lembah Baliem adalah festival budaya tertua yang ada di Papua. Dalam rangkaian restival budaya ini kita akan disuguhkan berbagai kreativitas budaya khas Bumi Cenderawasih seperti tari-tarian dan perang-perangan yang melibatkan ribuan penari yang berasal dari tiga suku besar di dataran tinggi Wamena dan Lembah Baliem, yaitu suku Dani, Lani, dan Yali. Festival Budaya Lembah Baliem juga sudah mendunia lho, jadi jangan heran jika pada saat festival berlangsung banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung kesana.

Festival Budaya Lembah Baliem 2018 di Lembah Senyum Walesi, Wamena

Jika ingin berfoto bersama penduduk lokal disana, kita wajib minta ijin dulu dan biasanya mereka menetapkan tarif untuk setiap kali sesi foto dengan kisaran harga Rp 10.000,- hingga Rp 100.000,-. Tapi semua tergantung negosiasi diawal kok. Bahkan ada yang hanya meminta dikasih beberapa puntung rokok saja sudah cukup. Nah, kalo soal bayaran, saya rasa sih wajar saja apalagi yang niatnya foto untuk dikomersialkan. Masa mau punya foto bagus tapi tidak mau bayar? Bagaimanapun juga festival tersebut merupakan salah satu “ladang” bagi mereka untuk mencari nafkah. Toh tidak dipaksa kan? Kalo mau foto silahkan bayar, tapi kalo tidak mau bayar ya jangan foto. As simple as that 😀

Foto Dengan Penduduk Lokal Wamena

Setelah puas menikmati Festival Budaya Lembah Baliem 2018, saya pun berkesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Wamena. Penasaran apa aja? Nih saya kasih tahu.

1. Tanah Gugur
Tidak jauh dari lokasi Festival Budaya Lembah Baliem, saya menyempatkan diri ke Tanah Gugur. Mungkin disebut tanah gugur karena tanahnya berguguran atau longsor dari gunung kali ya. Hehehe. Saat tiba di tempat ini, saya takjub banget dengan viewnya. Gila, sudah kayak di New Zealand aja! Hahaha. Tapi serius deh, pemandangan alamnya luar biasa cantik. Cocok nih buat kalian yang pengen foto prewed. Hahaha.

Tempat Wisata Tanah Gugur, Wamena

Di tempat ini kita akan disuguhkan lanscape pegunungan diantara hamparan tanah yang cukup luas. Disisi kanan dan kiri pegunungan pun kita bisa melihat pohon pinus yang berjejer rapi. Ah, pokoknya keren deh!

2. Danau Habema
Masih ada yang belum tahu Danau Habema? Wah, kebangetan nih! Hehehe. Danau Habema merupakan danau tertinggi yang ada di Indonesia. Danau ini berada di ketinggian 3.225 mdpl (meter di atas permukaan laut). Jadi wajar saja kalau sering disebut danau diatas awan. Kalau ingin kesini, usahakan jangan kesiangan apalagi sampai kesorean karena pasti akan berkabut. Oh satu lagi, jangan lupa untuk gunakan baju yang tebal ya! Kenapa? Dinginnya nggak nyantai cuy! Hahaha. Suhunya bisa mencapai 10 derajat celcius pada siang hari dan 0 derajat celcius pada malam hari. Beku nggak tuh?! Hrrrr.

Danau Habema

Untuk bisa mencapai ke lokasi ini, kita akan melewati pos penjagaan TNI untuk melapor. Jarak tempuh dari kota Wamena menuju Danau Habema ini lumayan jauh, jaraknya sekitar 48 kilometer. Sepanjang perjalanan, kita akan menjumpai jalan berliku dan menanjak yang lumayan terjal. Tapi jangan khawatir karena itu semua bakal terbayar kok. Mata kita akan dimanjakan dengan hamparan bukit yang disertai pohon-pohon tinggi dan berbagai tanaman endemik khas Papua lainnya ditambah dengan udara yang sejuk. Panorama alam seperti ini mungkin tidak akan kita jumpai di wilayah Indonesia lainnya.

Keindahan Alam Wamena

 

Buat yang hobi foto seperti saya, sepertinya Wamena ini juara banget! Dari segala sisi manapun viewnya selalu terlihat keren. Contohnya ketika saya berhenti sejenak untuk mengabadikan foto dengan latar pegunungan dan jalanan yang berlikak-likuk ini.  Tapi awas aja kalo sampai ada yang ngomong, “Itu ngapain sih jalanannya dibuat berkelok-kelok, kenapa nggak lurus aja? Buang-buang anggaran saja!” 😆

Indahnya Landscape Wamena

 

3. Batas Batu
Selama di Wamena saya juga berkesempatan untuk berkunjung ke Batas Batu yang lokasinya tak jauh dari Danau Habema. Setibanya disini, lagi-lagi saya takjub dengan keindahan alam Wamena. Entah kenapa saya merasa seperti sedang tidak berada di Indonesia, melainkan sedang berada di luar negeri seperti Swiss. Hahaha. Oh ya, Batas Batu ini masih berada di kawasan Taman Nasional Lorentz.

Medan menuju Batas Batu ini lebih ekstrem dibanding saat ke Danau Habema karena jalanannya lebih terjal dan berkelok serta masih berkerikil. Oleh karena itu, kalo pengen kesini usahakan menggunakan mobil double gardan atau 4WD ya. Jangan sekali-kali pake mobil biasa, kasihan mobilnya bakal gempor. Hehehe.

Suhu di Batas Batu juga lebih ekstrem karena bisa mencapai 5 derajat celcius pada siang hari! Wajar saja, soalnya tempat ini berada di ketinggian sekitar 3.300 mdpl. Saat saya kesana, saya lupa membawa sarung tangan. Jadi ya gitu, tangan saya serasa mau beku. Woaah!  Kalo soal meler, jangan ditanya lagi. Tapi demi foto yang bagus, saya rela deh lap ingus berulang kali. Haha. 😆

Batas Batu, Wamena

Bangga deh Indonesia punya tempat sekeren dan sekece ini!

Dari Batas Batu, jika cuaca cerah dan tidak berkabut kita dapat melihat puncak gunung Trikora atau Ettiakup yang bersalju. Ah Wamena, salah satu surga yang tersembunyi di Timur Indonesia! Setuju kan?!

Kalau masih belum percaya, mungkin video ini bisa membuat kalian jatuh cinta dengan alam dan budaya Wamena.

Jadi, kalian kapan main ke Wamena?

Gak perlu khawatir, Wamena cukup aman kok, sudah saya buktikan sendiri. Untuk penginapan dan transportasi udara juga sudah mulai banyak. Kalo soal biaya, memang lebih mahal jika dibanding kota lainnya yang ada di Papua. Tapi maklum saja, soalnya semua barang yang dipasok ke Wamena masih mengandalkan transportasi udara. Saya ambil contoh air mineral kemasan botol ukuran 600ml. Jika di Jayapura hanya Rp 5.000,-, nah di Wamena harganya bisa mencapai Rp 13.000,- s/d Rp 15.000,- per botol. Jadi kalau minum harus irit, jangan buang-buang air. Hahaha.

Tunggu apa lagi, yuk eksplore Wamena dan nikmati keindahan alam serta budaya disana! 🙂

 

Catatan: Thank you untuk Sam, Yan, Kak Alex, Hyro, dan Maikel yang sudah mau direpotkan selama saya berada di Wamena. 

90
Destinasi Wisata
75
Keamanan
75
Transportasi

Comments (118)
  1. Salman September 9, 2018, 12:22 pm

    Hmm, awalnya saya kira saya salah baca pas baca komen temennya mas Hans, baca laman about me-nya ternyata mas Hans lahir dan besar di papua toh. Salam kenal yang mas 🙂

    Btw dari dulu saya selalu kagum dengan keeksotisan tanah Papua. Apalagi skrng banyak bgt yang postingan yg ngeliatin betapa mengagumkannya pemandangan di papua. Sayang skrng dah punya anak, duh! nggak tau deh masih bisa atau enggak yah ke sana?

    Festival lembah Baliemnya seru nih kyknya, cuma kurang lengkap mas ngebahasnya. Untuk lodging dan makanannya gmn mas? Sama saya penasaran berhubung penduduk aslinya masih pada pake koteka gtu, itu klo ngasih uang ditaruh di mana y? (asli nanya lho ini mas).

    • Hans September 9, 2018, 12:40 pm

      Ah, iya nih kurang lengkap bahasnya soalnya udah capek nulis 😆 *payah ya, wkwkwk*
      Kalo soal penginapan sudah mulai banyak kok mas, cuma memang belum semua tempat penginapan menerapkan sistem booking secara online.
      Makanan disana sih cukup beragam, jadi gak usah pusing lagi mas mau makan apa.
      Yang pusing itu pas mau bayar karena harganya cukup mahal.
      Kayak lalapan ayam saja 50-60rb per porsi, hahaha 😆

      Kalo kasih duit, kasih seperti biasa aja mas, nanti mereka ngambil duitnya tetep pake tangan kok.
      Jadi jangan coba2 masukin duitnya ke dalam koteka ya mas nanti bisa disemprot :mrgreen:

  2. Gallant September 9, 2018, 2:03 pm

    Nama Wamena sudah nggak asing di telinga. Tapi lebih ngerti Wamena dengan Persiwa (klub bola mereka) yang kuat kalo main di kandang sendiri soalnya stadionnya di ketinggian, jadi lawannya susah ambil napas. Dari situ tau kalo di Wamena berarti masuknya dataran tinggi. Tapi baru tau banget ketika baca tulisan ini bisa sampe sebegitunya. Kirain ya dataran tingginya standar lah. Lha ini suhunya bisa sampe begitu. Dingin banget. Enak pasti.
    Kalo Festival Lembah Baliem, tau dari postingan Om Barry Kusuma, travel blogger dan fotografer.
    Aku sendiri pengen banget bisa jalan jalan ke Papua. Ya semoga tahun depan bisa ke Papua lah.

    • Hans September 9, 2018, 2:51 pm

      Iya bener. Waktu di Batas Batu saya sempat ngatur nafas karena agak susah buat bernafas.
      Disana kalo main bola gitu kayaknya bakal susah deh buat dapet keringat. Hahah.
      Semoga tahun depan kesampaian ya mas bisa menginjakan kaki di Tanah Papua 🙂

  3. rizzaumami September 9, 2018, 2:43 pm

    Ini akhirnya solo traveling apa ada temen jalan? Di danaunya ada perahu ga mas? Asik tuh kalo ada, sayang fotonya kok ga dimuat.

    • Hans September 9, 2018, 2:49 pm

      Gak pernah Solo traveling kok.
      Ini dari Jayapura berdua sama temen, tapi sampai sana jadinya berempat perginya.
      Yakali mas danaunya ada perahu.
      Kalopun ada gak bakal ada yang mau naik karena suhunya nggak nyante. Hahaha.
      Danaunya yang ada di belakang foto saya itu.
      Susah kalo mesti turun dekat danau dan dijamin gak bakal kuat dengan dinginnya. Hehe

  4. Abdul Jalil September 9, 2018, 3:09 pm

    Pemandangan syantik banget ya mas, bener serasa kayak di Eropa apalagi yang ada saljunya. Jadi ngiler deh, kapan ya bisa ke sana. 😍😍😍

    Btw foto yang mas ambil itu difoto pake tripod dan timer atau mas bawa asisten buat motoin?

    • Hans September 9, 2018, 3:16 pm

      Tahun depan semoga bisa kesana ya mas.
      Bagusnya pas bulan Agustus, saat ada festival Lembah Baliem.
      Yakali mas bawa asisten buat sekedar foto.
      Nggak segitunya juga ah. Hehe 😀

      Itu fotonya difotoin sama temen yang tinggal di Wamena mas. Kebetulan dia emang hobi photography juga sih, jadi doyan fotoin ketimbang difotoin 😅

  5. Aan September 9, 2018, 4:49 pm

    Slalu menunggu, kapan munas organisasi saya tiba giliran digelar di papua. Daerah2 timur yang belum kujamah.baca artikel dan lihat foto2nya jadi makin baper. Pesona yg biasa saya lihat di film2 kolosal sekaliber LOTR ternyata masih keren destinasi di negeri sendiri ya

    • Hans September 9, 2018, 10:02 pm

      Indonesia emang terlalu indah mas.
      Mulai dari ujung Barat sampai Timur punya destinasi wisata yang gak kalah dengan yang ada di luar negeri.
      Semoga suatu saat nanti bisa main ke wilayah Timur ya mas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *